mas pitoyo

Rabu, 31 Desember 2025

Makna Tahun Baru dan Hari Metta dalam Pandangan Agama Buddha

Makna Tahun Baru dan Hari Metta dalam Pandangan Agama Buddha

Oleh: Tripitoyo

Pendahuluan

Tahun Baru sering dipahami sebagai pergantian kalender, namun dalam pandangan Agama Buddha, Tahun Baru memiliki makna yang jauh lebih dalam: sebuah kesempatan spiritual untuk memperbarui batin, memperbaiki diri, dan menumbuhkan kebajikan. Seiring dengan itu, umat Buddha juga mengenal Hari Metta, hari khusus untuk mengembangkan cinta kasih universal kepada semua makhluk. Kedua momentum ini memiliki hubungan yang sangat erat dalam praktik kehidupan Buddhis.

Makna Tahun Baru dalam Agama Buddha

Dalam Buddhisme, waktu bukan hanya tentang perhitungan hari, tetapi tentang kesadaran terhadap perubahan (anicca). Tahun Baru mengingatkan umat bahwa:


“Segala sesuatu berubah, tidak ada yang kekal, maka manusia hendaknya menggunakan hidup ini untuk berbuat kebajikan.”

Makna utama Tahun Baru Buddhis meliputi:

1. Refleksi Diri

Umat diajak meninjau kembali perbuatan, ucapan, dan pikiran selama setahun:

* Apakah telah hidup sesuai Dhamma?

* Apakah telah banyak membantu makhluk lain?

* Apakah batin semakin tenang dan bijaksana?

2. Tekad Pembaruan Batin

Tahun Baru bukan sekadar resolusi duniawi, melainkan tekad batin untuk:

* Mengurangi keserakahan (lobha)

* Mengikis kebencian (dosa)

* Mengembangkan kebijaksanaan (paññā)

3. Menanam Benih Kamma Baik

Awal tahun menjadi momentum untuk memperkuat kebiasaan baik seperti berdana, bermeditasi, menjaga sila, serta memperdalam pemahaman Dhamma.

Makna Hari Metta

Mettaberarti cinta kasih tanpa syarat — keinginan tulus agar semua makhluk berbahagia tanpa membeda-bedakan.

Dalam Karaṇīya Metta Sutta, Buddha mengajarkan:

“Sebagaimana seorang ibu melindungi anak tunggalnya, demikianlah hendaknya seseorang mengembangkan batin penuh cinta kasih kepada semua makhluk.”

Hari Metta menjadi momen khusus untuk:

* Mengikis kebencian, iri hati, dan dendam

* Memperkuat persaudaraan dan keharmonisan

* Melatih batin agar penuh welas asih dan damai

Manfaat Praktik Metta

* Hati menjadi tenang dan bahagia

* Hubungan sosial menjadi harmonis

* Mengurangi konflik dan kekerasan

* Menumbuhkan kedamaian batin yang stabil

Hubungan Tahun Baru dan Hari Metta

Tahun Baru memberi kesempatan memperbaiki arah hidup, sementara Hari Metta memberi **landasan batin** untuk melangkah di jalan tersebut. Tanpa Metta, resolusi Tahun Baru mudah runtuh oleh emosi negatif. Dengan Metta, perubahan hidup menjadi lebih mantap, damai, dan bermakna.

Tahun Baru adalah permulaan tekad, Hari Metta adalah jiwa dari tekad itu.

Relevansi bagi Kehidupan Modern

Di tengah dunia yang penuh tekanan, konflik, dan persaingan, nilai Tahun Baru Buddhis dan Hari Metta sangat relevan:

* Mengajarkan pengendalian diri

* Mengembangkan empati sosial

* Menumbuhkan kedamaian di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat

Terutama bagi generasi muda, nilai Metta membantu mereka menghadapi tantangan zaman dengan hati yang kuat, lembut, dan bijaksana.

Penutup

Tahun Baru dan Hari Metta bukan hanya tradisi seremonial, melainkan **latihan batin untuk memperindah kehidupan**. Ketika manusia mampu memulai tahun dengan batin yang penuh cinta kasih, maka dunia di sekitarnya pun akan ikut berubah menjadi lebih damai.

“Kedamaian dunia bermula dari kedamaian hati manusia.”

Semoga di setiap awal tahun, kita semakin mantap menapaki jalan Dhamma dengan hati yang penuh Metta, kebijaksanaan, dan kebahagiaan sejati.

Senin, 29 Desember 2025

Saddhā: Keyakinan yang Hidup di Tengah Tantangan Remaja Masa Kini

Saddhā: Keyakinan yang Hidup di Tengah Tantangan Remaja Masa Kini

Oleh: Tripitoyo

Pendahuluan

Di tengah derasnya arus informasi, tekanan pergaulan, dan krisis identitas yang dialami remaja masa kini, persoalan keyakinan beragama menjadi tantangan yang semakin nyata. Banyak remaja Buddhis tumbuh dalam lingkungan yang plural, dinamis, bahkan sering kali mempertanyakan kembali makna agama dalam hidup mereka. Pada titik inilah konsep Saddhā dalam ajaran Buddha menjadi sangat relevan dan penting untuk dipahami secara mendalam.

Saddhā bukan sekadar percaya tanpa dasar, melainkan sebuah keyakinan yang tumbuh dari pemahaman, pengalaman, dan kebijaksanaan. Ia bukan warisan yang diterima begitu saja, tetapi sebuah proses batin yang hidup dan berkembang seiring perjalanan spiritual seseorang.

Makna Saddhā dalam Ajaran Buddha

Dalam bahasa Pāli, Saddhā berarti keyakinan yang berlandaskan kebijaksanaan. Sang Buddha menempatkan Saddhā sebagai fondasi awal bagi seluruh praktik Dhamma. Dalam Aṅguttara Nikāya 4.34, Buddha menyatakan bahwa Saddhā adalah awal dari semua kebajikan. Tanpa keyakinan, seseorang tidak akan terdorong untuk berlatih; tanpa latihan, tidak akan terjadi perubahan batin.

Namun, Saddhā dalam Buddhisme sangat berbeda dengan konsep keyakinan yang bersifat dogmatis. Dalam Kālāma Sutta (AN 3.65), Sang Buddha mengajarkan bahwa seseorang tidak seharusnya menerima ajaran hanya karena tradisi, guru, kitab, atau mayoritas orang mempercayainya. Keyakinan harus diuji melalui pengalaman langsung dan kebijaksanaan pribadi. Dengan demikian, Saddhā menjadi keyakinan yang rasional, terbuka, dan membebaskan.

Objek Saddhā: Tiratana

Saddhā seorang Buddhis tertuju pada Tiratana: Buddha, Dhamma, dan Sangha. Keyakinan terhadap Buddha bukanlah pemujaan terhadap pribadi, melainkan penghormatan kepada seseorang yang telah mencapai pencerahan sempurna dan menunjukkan jalan pembebasan. Keyakinan terhadap Dhamma adalah kepercayaan pada kebenaran hukum alam yang diajarkan Buddha, sedangkan keyakinan terhadap Sangha adalah penghormatan kepada komunitas para praktisi yang menjalankan ajaran tersebut dengan sungguh-sungguh.

Dengan memahami Tiratana secara tepat, Saddhā tidak berhenti pada simbol dan ritual, tetapi menjelma menjadi komitmen hidup untuk meneladani nilai-nilai luhur Buddha dalam kehidupan sehari-hari.

RTantangan Saddhā di Kalangan Remaja

Remaja Buddhis masa kini menghadapi berbagai tantangan serius: tekanan teman sebaya, pengaruh media sosial, stigma sebagai kelompok minoritas, serta anggapan bahwa agama adalah sesuatu yang kuno dan tidak relevan. Banyak di antara mereka mulai meragukan keyakinannya, bukan karena tidak percaya, tetapi karena belum memperoleh pemahaman yang kokoh.

Situasi ini tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai kesempatan untuk menumbuhkan Saddhā yang lebih dewasa. Keraguan bukan tanda kegagalan iman, melainkan pintu masuk menuju pemahaman yang lebih mendalam jika diarahkan dengan bijaksana.

Tingkatan Pertumbuhan Saddhā

Dalam praktiknya, Saddhā berkembang melalui tiga tahap:

  1. Āgama Saddhā – keyakinan karena menerima ajaran.

  2. Ākāra Saddhā – keyakinan karena memahami makna ajaran.

  3. Adhigama Saddhā – keyakinan karena mengalami manfaat ajaran dalam kehidupan nyata.

Remaja diajak untuk tidak berhenti pada tahap pertama, melainkan terus bertumbuh menuju pengalaman batin yang nyata. Di sinilah Saddhā menjadi kekuatan transformatif yang mengubah cara berpikir, bersikap, dan bertindak.

Menumbuhkan Saddhā Melalui Praktik Nyata

Saddhā tidak tumbuh melalui ceramah semata, melainkan melalui latihan hidup sehari-hari: mendengarkan dan mempelajari Dhamma, menjalin persahabatan dengan Kalyāṇamitta (teman yang baik), menjaga sila sederhana, melatih meditasi singkat, serta melakukan kebajikan kecil dengan konsisten.

Dalam praktik konkret, Saddhā tampak melalui sikap jujur, kemampuan mengendalikan emosi, kesediaan menghormati perbedaan, serta kepedulian terhadap sesama. Dengan kata lain, Saddhā tidak diukur dari simbol yang dikenakan, melainkan dari kualitas karakter yang terbangun.

Relevansi Saddhā Bagi Masa Depan Remaja

Remaja yang memiliki Saddhā yang sehat tidak mudah goyah oleh tekanan lingkungan. Mereka tidak merasa rendah diri sebagai minoritas, tidak pula bersikap fanatik terhadap keyakinannya. Sebaliknya, mereka tumbuh menjadi pribadi yang damai, percaya diri, toleran, dan beretika.

Saddhā yang hidup akan melahirkan generasi Buddhis yang tidak hanya bangga terhadap identitasnya, tetapi juga mampu menjadi teladan kebaikan di tengah masyarakat majemuk.

Penutup

Saddhā bukan tentang menjadi yang paling benar, melainkan tentang menjadi pribadi yang semakin baik. Ia bukan sesuatu yang diwariskan, tetapi sesuatu yang ditumbuhkan melalui proses belajar, latihan, dan pengalaman. Di tengah kompleksitas dunia remaja masa kini, Saddhā yang rasional, terbuka, dan membebaskan adalah bekal spiritual yang sangat berharga.

Semoga artikel ini menginspirasi para remaja Buddhis untuk terus menumbuhkan keyakinan yang hidup, yang membawa kedamaian bagi diri sendiri dan manfaat bagi sesama.

Senin, 27 Mei 2024

Modul ajar pendidikan Agama Buddha Kelas X SMA/SMK semester 2

https://online.fliphtml5.com/kbhyy/ekdo/?1716863363080#p=1

“Meningkatkan Pemahaman Peserta didik dalam Pembelajaran Agama Buddha Menggunakan Media Canva ”

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.      Latar Belakang dan Rumusan Masalah

Pembelajaran merupakan suatu proses perubahan tingkah laku baik aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Agama Buddha menjadi salah satu mata pelajaran penting yang memberikan pemahaman tentang ajaran, sejarah, dan praktik-praktik yang terkait dengan agama tersebut. Pembelajaran Agama Buddha pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA/K) kelas XI bertujuan untuk memberikan pemahaman yang mendalam kepada peserta didik tentang konsep-konsep fundamental dalam agama Buddha.

Tantangan dalam pembelajaran Agama Buddha meliputi kompleksitas materi dan metode penyampaian yang terkadang kurang menarik bagi peserta didik. Konsep-konsep yang abstrak dan sejarah yang panjang dapat membuat pemahaman menjadi sulit bagi sebagian siswa.

Teknologi telah menjadi bagian integral dalam dunia pendidikan modern. Penggunaan teknologi dalam pembelajaran dapat meningkatkan keterlibatan siswa, memperluas akses terhadap sumber daya, dan meningkatkan pemahaman konsep-konsep yang sulit.

Canva merupakan salah satu platform desain grafis yang mudah digunakan dan populer di kalangan guru dan siswa. Dengan Canva, guru dapat membuat materi pembelajaran yang menarik dan interaktif dengan mudah, termasuk untuk mata pelajaran seperti Agama Buddha.

Penulis bertujuan untuk mengeksplorasi potensi penggunaan Canva dalam meningkatkan pemahaman peserta didik dalam pembelajaran Agama Buddha. Hal ini dilakukan dengan menyajikan materi pembelajaran melalui Canva dan mengamati dampaknya terhadap pemahaman peserta didik.

Dengan memperhatikan latar belakang ini, penelitian tentang penggunaan Canva dalam pembelajaran Agama Buddha diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam memecahkan tantangan yang dihadapi dalam pembelajaran mata pelajaran ini dan meningkatkan kualitas pendidikan agama di sekolah.

1.2.      Tujuan

Tujuan dari best practice ini adalah sebagai berikut :

1.         Mengidentifikasi potensi dan keefektifan penggunaan Canva sebagai alat pembelajaran dalam konteks pembelajaran Agama Buddha di tingkat kelas SMA/K kelas XI.

2.         Menciptakan pengalaman pembelajaran yang lebih menarik dan memotivasi siswa untuk terlibat aktif dalam proses belajar mengajar.

3.         Meningkatkan retensi informasi dan penerapan konsep-konsep Agama Buddha dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memanfaatkan fitur visual dan interaktif Canva, diharapkan peserta didik dapat lebih mudah mengingat dan menginternalisasi materi pembelajaran.

4.         Menilai seberapa besar dampaknya terhadap peningkatan pemahaman peserta didik dalam pembelajaran Agama Buddha.

 

1.3.      Manfaat

Best practice ini diharapkan akan memberikan manfaat bagi siswa, guru, dan sekola. Adapun manfaatnya adalah sebagai berikut :

1.         Manfaat bagi siswa.

a.       Penggunaan Canva akan menciptakan pengalaman pembelajaran yang lebih menarik dan menyenangkan bagi siswa. Fitur visual dan interaktif yang disediakan Canva akan membuat proses pembelajaran menjadi lebih dinamis dan menghibur.

b.      Siswa akan lebih terlibat dan termotivasi dalam proses pembelajaran karena materi yang disajikan melalui Canva lebih interaktif dan menarik. Hal ini akan membantu meningkatkan minat mereka terhadap pembelajaran Agama Buddha

c.       Penggunaan Canva juga akan membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan digital mereka. Mereka akan belajar menggunakan alat desain grafis secara mandiri dan meningkatkan literasi digital mereka.

 

 

 

2.         Manfaat bagi guru.

          Penggunaan Canva akan mendorong guru untuk menjadi lebih kreatif dalam menyajikan materi pembelajaran. Mereka dapat dengan mudah membuat materi yang menarik dan bervariasi sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa.

3.         Manfaat bagi sekolah.

a.       Penggunaan Canva dalam pembelajaran Agama Buddha akan membantu meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Materi yang disajikan secara visual dan interaktif akan membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan efektif.

b.      Dengan mengimplementasikan teknologi dalam pembelajaran, sekolah akan meningkatkan reputasinya sebagai lembaga pendidikan yang inovatif dan modern. Hal ini dapat meningkatkan daya tarik sekolah bagi calon peserta didik dan orang tua.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PELAKSANAAN KEGIATAN

2.1.        Sasaran

Adapun yang menjadi sasaran dalam best practice ini adalah peserta didik yang beragama Buddha kelas XI SMK Nusaputera 1 Semarang.

2.2.        Materi Kegiatan

Bahan ajar yang diangkat dalam best practice ini adalah lestari seni Buddhisku, Lestari Agamaku pada materi agama Buddha Fase E.

2.3.        Metode Pelaksanaan

Deskripsi kegiatan Pembelajaran

Pendahuluan :

Ø  Melakukan pembukaan dengan salam pembuka dan bersyukur dan berdoa sebelum memulai pembelajaran

Ø  Menyiapkan fisik dan psikis peserta didik sebelum memulai pembelajaran.

Ø  Guru mengajukan pertanyaan terkait materi yang sudah dipelajari pertemuan sebelumnya.

Ø  Menyampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan yang berlangsung.

Ø  Guru menjelaskan mekanisme pembelajaran.

Inti:

Ø  Peserta didik mengamati gambar candi-candi peninggalan agama Buddha

Ø  Untuk mengetahui pemahaman peserta didik, guru mengajukan beberapa pertanyaan mengenai gambar tersebut.

1.      Deskripsikan  mengenai gambar tersebut?

2.      Menurut kalian sejauh mana ora-orang mengenal tentang seni Buddhis?

3.      Bagaimana cara kalian bisa memprkenalkan seni Buddhis kepada masyarakat luas?

Ø  Guru membangun kemampuan peserta didik dalam menghubungkan nmateri dengan proyek yang akan dibuat.

Ø  Guru menjelaskan tentang tugas proyek yang akan dikerjakan

Ø  Guru memberikan sedikit penjelasan tentang canva

Ø  Peserta didik menanyakan hal-hal yang belum dipahami yang berkaitan dengan tugas proyek yang akan dikerjakan.

Ø  Berdiskusi dengan peserta didik untuk menentukan rancangan proyek yang akan dilakukan (mendeskripsikan candi candi Buddha dan memperkenalkan kepada masyarakat luas mengenai candi candi bercorak Buddhis) yang kemudian akan dituangkan dalam media canva.

Ø  Peserta didik akan menyusun tugas proyek sesuai dengan bahan yang mereka dapatkan.

Ø  Peserta didik akan menuangkan hasil dalam media canva

Ø  Guru mengawasi peserta didik dalam mengembangkan proyek

Menguji hasil

Ø  Peserta didik secara bergantian mempresentasikan hasilnya.

Ø  Peserta didik dari lain diberikan kesempatan untuk memberikan komentar atas hasil pekerjaan rekan lain (jika waktu memungkinkan)

Ø  Guru melakukan penilaian (Uji proyek) terhadap hasil kerja peserta didik dengan menggunakan rubrik penilaian secara cermat.

Ø  Guru memberikan umpan balik terhadap tanggapan-tanggapan peserta didik untuk menyamakan persepsi secara objektif

Ø  Guru memberikan evaluasi terhadap proyek hasil kerja peserta didik

Ø  Guru dan peserta didik melakukan refleksi terhadap aktifitas dan hasil proyek peserta didik

Penutup

Ø  Guru membimbing dan menfasilitasi peserta didik membuat kesimpulan pembelajaran

Ø  Refleksi mengenai pembelajaran yang telah dilakukan hari ini.

Ø  Guru memberitahukan peserta didik materi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya.

Ø  Memberikan penghargaan kepada peserta didik yang bisa menyelesaikan tugas dengan baik.

Ø  Menutup pembelajaran dengan doa dan salam.

 

 

2.4.        Alat/ Instrument

Media pembelajaran yang digunakan dalam best practice ini adalah, power point, canva, LCD, Laptop. Adapun instrumen penilaian yang digunakan dalam best practice ini ada 2, yaitu;

1.       Instrumen penilaian untuk mengamati proses pembelajaran yang berupa lembar observasi.

2.       Instrumen penilaian untuk hasil belajar peserta didik, berupa instrument penilaian tes tulis dan penilaian sikap dan presentasi kinerja.

2.5.        Waktu dan Tempat Kegiatan

Kegiatan ini dilakukan di sekolah Nasional Nusaputera pada kelas XI SMA Nussaputera pada hari Rabu 27 maret 2024.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1.Hasil Kegiatan

Hasil yang didapatkan setelah melaksanakan pembelajaran agama Buddha dengan media.

1.       Peserta didik lebih bersemangat dalam mengikuti pembelajaran agama Buddha karena pemilihan media dalam pembelajaran yang lebih interaktif tidak seperti pembelajaran biasanya dimana guru hanya menggunakan metode konservatif dan monoton dalam pembelajaran. Hal ini dapat terlihat dari keaktifan dan kreatifitas dalam mengerjakan proyek.

2.       Peserta didik lebih memahami materi lestari seni budaya Buddhis, lestari agamaku. Dapat dilihat dari kemampuan peserta didik mendeskripsikan dengan detail mengenai candi Buddhis di Indonesia. Selain itu peserta didik lebih bersemangat dalam mendesain presentasi berkaitan dengan mempromosikan candi Buddhis di Indonesia dengan menggunakan aplikasi canva.

3.       Peserta didik lebih aktif dan antusias dalam mengikuti pembelajaran. Terliah saat peserta didik melakukan presentasi.

3.2.Masalah yang Dihadapi

Dalam pelaksanaan pembelajaran ini, penulis mengalami kendala di waktu penyelesaian proyek yang membutuhkan cukup lama sehingga peserta didik membutuhkan waktu kurang lebih 1 minggu dalam penyelesaian proyek desain membuat promosi candi-candi Buddha di aplikasi canva. Untuk masalah tekhnis dan lainnya semua dapat teratasi dengan adanya fasilitas dari sekolah yang sudah cukup menunjang.

3.3.Cara Menyelesaikan Masalah

Dalam penyelesaiannya penulis melakukan sharing dengan peserta didik terkait kendala dan kemajuan desain mereka. Selain itu penulis juga melakukan tanya jawab terkait ketertarikan peserta didik dalam melakukan pembelajaran menggunakan media canva sebagai bahan evaluasi dan perbaikan untuk pembelajaran berikutnya.

BAB IV

PENUTUP

 

 

4.1.       Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka kesimpulan best practice ini adalah sebagai berikut :

1.         Berdasarkan uraian-uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan aplikasi canva dalam pembelajaran agama Buddha dengan materi lestari seni budaya Budhisku, lestari agamaku yang di lakukan kepada peserta didik kelas XI SMA Nusaputera dapat meningkatkan pemahaman peserta didik dalam materi tersebut.

 

4.2.       Saran

1.    Guru sebagai sumber belajar dan fasilitator seharusnya guru mampu mengikuti perkembangan zaman termasuk dalam penguasaan IPTEK dan pemanfaatannya dalam pembelajaran

2.    Peserta didik Sebagai generasi penerus bangsa, peserta didik diharapkan mampu menerapkan pola berfikir kritis dan senantiasa tekun dalam belajar untuk kemanjuan bangsa dan Negara kita tercinta Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Diyana, saring santosa. (2021). Buku Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Untuk SMA/SMK Kelas XI. Jakarta : Pusat Perbukuan Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

 

Canva. (2020). Canva Design School: Resources for Learning Graphic Design. Diakses dari: https://www.canva.com/learn/

 

Mulyasa, E. (2013). Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. PT Remaja Rosdakary

 

Daryanto. (2013). Media Pembelajaran: Pesan, Proses, dan Praktek. Rineka Cipta.

 

Satriawan, W., & Khusnurrofiq, M. (2021). Menggagas Kurikulum Merdeka: Konsep, Landasan, dan Implementasi di Sekolah. Penerbit Ind